Sementara aku menjajaki
Sementara dipaksa memahami
Paham paham setarik makna
Perjuangan tak menghirau sia sia
Tak salah kau teruskan
Sakit
Memang semestinya sakit
Duri duri hati
Dikerubuti sakti nyali
Sabtu, 19 Mei 2018
Jumat, 02 September 2016
melulu
kita sepasang sunyi,
di kibuli waktu.
kau bangku taman,
melulu menunggu.
aku lampu jalan, menyala,
tapi sibuk membisu.
pahamilah aku,
bukan sesengaja kebertemuan.
waktu yang hebat,
jangan diberhentikan.
di kibuli waktu.
kau bangku taman,
melulu menunggu.
aku lampu jalan, menyala,
tapi sibuk membisu.
pahamilah aku,
bukan sesengaja kebertemuan.
waktu yang hebat,
jangan diberhentikan.
Senin, 08 Agustus 2016
hhh
kemudian,
waktu yang terus membantah
jalan berlari tepat dibelakangku
aku mengerti itu
Dia terus meminta
meminta apa yang menjadi hak nya
sebuah pengharapan yang dulu dibuat
yang itu sekarang seperti ilalang
bergoyang dengan
angin
waktu yang terus membantah
jalan berlari tepat dibelakangku
aku mengerti itu
Dia terus meminta
meminta apa yang menjadi hak nya
sebuah pengharapan yang dulu dibuat
yang itu sekarang seperti ilalang
bergoyang dengan
angin
Selasa, 29 April 2014
tak arti
aku pikir aku bijaksana
lakukan hal kecil dengan tegas lantangnya
keberanian, membuat bibirku menganga
tak percuma, itu perang ku dengan semesta
hei, penguasa hati
kau apakan aku ini
aku ingin jelaska
aku tak bisa seperti ini
mati, hanyalah hidup yang tak arti
lakukan hal kecil dengan tegas lantangnya
keberanian, membuat bibirku menganga
tak percuma, itu perang ku dengan semesta
hei, penguasa hati
kau apakan aku ini
aku ingin jelaska
aku tak bisa seperti ini
mati, hanyalah hidup yang tak arti
Senin, 31 Maret 2014
dan, dia
dan
dia datang
bawa lagi harapan
bawa lagi pesakitan
dan
dia berjalan
kali ini tiada raguan
tiada hangat senyuman
dan
dia pergi
kusesali lagi
lamunan pagi ini
dia datang
bawa lagi harapan
bawa lagi pesakitan
dan
dia berjalan
kali ini tiada raguan
tiada hangat senyuman
dan
dia pergi
kusesali lagi
lamunan pagi ini
Minggu, 23 Februari 2014
lama
jelas kuhirup warna sendu
kokoh nan sayup merayu
bungkam menjalar
dari sinari mentari
kutembus lewati ilalang
tetap tak temukan
retorika sebenarnya, rasa..
lama..
mengenalmu..
membencimu..
ku sesali pertemuan dulu..
seperti bom waktu
aku akan mati terbunuh
sesali dulu
kokoh nan sayup merayu
bungkam menjalar
dari sinari mentari
kutembus lewati ilalang
tetap tak temukan
retorika sebenarnya, rasa..
lama..
mengenalmu..
membencimu..
ku sesali pertemuan dulu..
seperti bom waktu
aku akan mati terbunuh
sesali dulu
Rabu, 22 Januari 2014
sama
Kamu, dia, mereka, dan kita hakikatnya sama
Doyan makan nasi dan kecil minum susu
Yang masih bisa menangis kala sedih
Tertawa saat melihat komedi
Dan tersenyum saat dia juga membalas senyummu
Aku sadari itu adalah cumbu kita terhadap waktu
Waktu yang entah kapan berakhir
Yang bisa saja, karna waktu yang tepat
Kau tak bisa jelaskan
Apa arti senyummu kala kau sedang bahagia
Karna waktu yang tepat
Kau bisa merangkum arti perjuangan hidupmu
Karna waktu yang tepat
Kau bisa memejamkan mata
Dihari kelak, kala kau benar-benar letih
Dipenghujung muda, di pengakhiran tua
Hingga tak ada ruang waktu lagi
Untuk kau terus hidup
Langganan:
Postingan (Atom)